May 20, 2013

Posted by in Mahasiswa | 1 Comment

TRANSFORMASI KURIKULUM 2006 MENUJU KURIKULUM 2013

Dalam Undang-undang No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pasal 1 ayat (19) definisi kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu. Selain itu juga dapat dipandang sebagai suatu rancangan pendidikan. Sebagai suatu rancangan, kurikulum menentukan pelaksanaan dan hasil pendidikan. Kita maklumi bahwa pendidikan merupakan usaha mempersiapkan peserta didik untuk terjun ke lingkungan masyarakat. Pendidikan bukan hanya untuk pendidikan semata, namun memberikan bekal pengetahuan, keterampilan serta nilai-nilai untuk hidup, bekerja dan mencapai perkembangan lebih lanjut di masyarakat.[1] Peserta didik berasal dari masyarakat, mendapatkan pendidikan baik formal maupun informal dalam lingkungan masyarakat dan diarahkan bagi kehidupan masyarakat pula. Melalui  pendidikan, kita mengharapkan agar lebih mengerti dan mampu membangun kehidupan masyarakat. Oleh karena itu kurikulum yang berisi pada tujuan, isi, maupun proses pendidikan harus disesuaikan dengan kebutuhan, kondisi, karakteristik, kekayaan dan perkembangan yang ada di masyakarakat.

Kurikulum harus berubah sesuai perubahan yang berlaku pada tatanan nilai kehidupan yang pada setiap zaman. Perubahan kurikulum tidaklah dapat dirumuskan secara cepat dan tepat, namun memerlukan waktu yang terus berubah dalam penyempurnaan kurikulum tersebut, yang mana komponen-komponen dari kurikulum tersebut berubah dengan suatu upaya yang disengaja. Oleh karena itu, perubahan kurkulum dapat berupa perubahan sebahagian dan berupa perubahan total.

Sejak kemerdekaan Indonesia, kurikulum pendidikan dasar dan menengah sudah mengalami sepuluh kali perubahan. Perubahan kurikulum yang terakhir adalah pada tahun 2006 yang disebut dengan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Implementasi KTSP masih belum optimal karena berbagai faktor, diantaranya adalah kompetensi guru dan sarana dan prasarana yang masih terbatas,  serta sistem penilain yang masih lemah.  Pergantian kurikulum yang silih berganti, ternyata belum mampu meningkatkan kualitas pendidikan nasional.

KTSP baru diterapkan selama 6 (enam) tahun, namun Pemerintah, dalam hal ini Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, telah menyiapkan kurikulum baru yang disebut dengan Kurikulum 2013. Sejak konsep kurikulum 2013 diperkenalkan oleh Pemerintah telah banyak tanggapan dari masyarakat umum, para profesional, dan anggota DPR-RI. Sikap mereka ada yang menolak dan ada juga yang menerima atau pro. Mayoritas dari mereka mengusulkan supaya pelaksanaan kurikulum 2013 ditunda, dan dilakukan uji coba terlebih dahulu. Namun, sepertinya Pemerintah, tetap pada pendiriannya untuk menerapkan kurikulum 2013 pada tahun ajaran baru, yaitu bulan Juli 2013.

 

 

A. KURIKULUM 2006 (KTSP)

KTSP adalah kurikulum operasional yang disusun, dikembangkan, dan dilaksanakan oleh setiap satuan pendidikan dengan memperhatikan standar kompetensi dan kompetensi dasar yang dikembangkan Badan Standar Nasional Pendidikan ( BSNP ). KTSP merupakan bentuk implementasi dari UU No. 20 tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional yang dijabarkan ke dalam sejumlah peraturan antara lain Peraturan Pemerintah Nomor 19 tahun 2005 tentang standar nasional pendidikan. Peraturan Pemerintah ini memberikan arahan tentang perlunya disusun dan dilaksanakan delapan standar nasional pendidikan, yaitu: (1)standar isi, (2)standar proses, (3)standar kompetensi lulusan, (4)standar pendidik dan tenaga kependidikan, (5)standar sarana dan prasarana, (6)standar pengelolaan, (7)standar pembiayaan, dan (8)standar penilaian pendidikan.[2]

 

Beberapa hal yang perlu dipahami dalam kaitannya dengan kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP) adalah sebagai berikut: KTSP dikembangkan sesuai dengan kondisi satuan pendidikan, potensi dan karakteristik daerah, serta social budaya masyarakat setempat dan peserta didik. Sekolah dan komite sekolah mengembangkan kurikulum tingkat satuan pendidikan dan silabusnya berdasarkan kerangka dasar kurikulum dan standar kompetensi lulusan, dibawah supervise dinas pendidikan kabupaten/kota, dan departemen agama yang bertanggungjawab di bidang pendidikan. Kurikulum tingkat satuan pendidikan untuk setiap program studi di perguruan tinggi dikembangkan dan ditetapkan oleh masing-masing perguruan tinggi dengan mengacu pada Standar Nasional Pendidikan. KTSP merupakan strategi pengembangan kurikulum untuk mewujudkan sekolah yang efektif, produktif, dan berprestasi. KTSP merupakan paradigma baru pengembangan kurikulum, yang otonomi luas pada setiap satuan pendidikan, dan pelibatan pendidikan masyarakat dalam rangka mengefektifkan proses belajar-mengajar di sekolah. Otonomi diberikan agar setiap satuan pendidikan dan sekolah meiliki keleluasaan dalam megelola sumber daya, sumber dana, sumber belajar dan mengalokasikannya sesuai dengan prioritas kebutuhan, serta lebih tanggap terhadap kebutuhan setempat.

KTSP dapat dipandang sebagai suatu pola pendekatan baru dalam pengembangan kurikulum dalam konteks otonomi daerah yang sedang digulirkan sewasa ini. Oleh Karen itu, KTSP perlu diterapkan oleh setiap satuan pendidikn, terutama berkaitan dengan tujuh hal sebagi berikut :[3]

1.Sekolah lebih mengetahui kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman bagi dirinya sehingga dia dapat menoptimalkan pemanfaatan sumberdaya yang tersedia untuk memajukan lembaganya.

2.Sekolah lebih mengetahui kebutuhan lembaganya, khususnya input pendidikan yang akan dikembangkan dan didayagunakan dalam proses pendidikan sesuai dengan perkembangan dan kebutuhan peserta didik.

3.Pengambilan keputusan yang dilakukan oleh sekolah lebih cocok untuk memenuhi kebutuhan seklah karena pihak sekolahlah yang paling tahu apa yang terbaik bagi sekolahnya.

4.Keterlibatan semua warga seklah dan masyarakat dalam pengembangan kurikulum menciptakan transparansi dan demokrasi yang sehat, serta lebih efesien dan efektif bilamana dikontrol oleh masyarakat sekitar.

5.Sekolah daapt bertanggung jawab tentang mutu pendidikan masing-masing kepada pemerintah, orangtua peserta didik, dam masyarakat pada umumnya, sehingga dia akan berupaya semaksimalkam mungkin unutk melaksanakna dan mencapai sasaran KTSP.

6.Sekolah dapat melakukan persaingan yang sehat dengan sekolah-sekolah lain untuk meningkatkan mutu pendidikan melalui upaya-upaya inovatif dengan dukungan orangtua peserta didik, masyarakat, dan pemerintah daerah setempat.

7.Sekolah dapat secara cepat merespon aspirasi masyarakat dan lingkungan yang berubah dengan cepat, serta mengakomodasikannya dalam KTSP.

Ciri-ciri KTSP

1.KTSP memberi kebebasan kepada tiap-tiap sekolah untuk menyelenggarakan program pendidikan sesuai dengan kondisi lingkungan sekolah, kemampuan peserta didik, sumber daya yang tersedia dan kekhasan daerah.

2.Orang tua dan masyarakat dapat terlibat secara aktif dalam proses pembelajaran.

3.Guru harus mandiri dan kreatif.

4.Guru diberi kebebasan untuk memanfaatkan berbagai metode pembelajaran.

Pada kurikulum 2006 tersebut, pemerintah pusat juga menetapkan standar kompetensi dan komptensi dasar, yang mana sekolah, dalam hal ini guru, dituntut untuk mampu mengembangkan dalam bentuk silabus dan penilainnya sesuai dengan kondisi sekolah dan daerahnya. Hasil pengembangan dari semua mata pelajaran dihimpun menjadi sebuah perangkat yang dinamakan kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP). Penyusunan KTSP menjadi tanggung jawab sekolah di bawah binaan dan pemantauan Dinas Pendidikan Daerah dan wilayah setempat. Pendidikan nasional harus mampu menjamin pemerataan kesempatan pendidikan, peningkatan mutu dan relevansi serta efisiensi manajemen pendidikan. Pemerataan kesempatan pendidikan diwujudkan dalam program belajar 9 tahun. Peningkatan mutu pendidikan diarahkan untuk meningkatkan kualitas manusia indonesia seutuhnya melalui olah hati, olah pikir, olah rasa dan olahraga, agar memiliki daya saing dalam menghadapi tantangan global. Relevansi pendidikan dimasksudkan untuk menghasilkan kelulusan yang sesuai dengan tuntutan kebutuhan yang berbasis potensi sumber daya alam indonesia. Peningkatan efisensi manajemen pendidikan dilakukan melalui penerapan manajemen berbasis sekolah dan pembaharuan pengelolaan pendidikan secara terencana, terarah dan berkesinambungan.[4]

B. Kurikulum 2013

Mencermati bahan uji publik kurikulum 2013 dapat disimpulkan bahwa kurikulum ini bukanlah formula pendidikan yang baru, tetapi merupakan tahap lanjutan dari kurikulum sebelumnya yaitu 2004 (KBK) dan 2006 (KTSP). Hal ini dapat dilihat dari target pembelajaran yang masih mengacu pada kompetensi sikap, pengetahuan dan ketrampilan secara terpadu (KBK) dan setiap satuan pendidikan diharuskan menyusun kurikulum sendiri dengan mempertimbangkan kondisi satuan pendidikan, kebutuhan peserta didik, dan potensi daerah (KTSP).

Pengembangan kurikulum ini didasari permasalahan pelaksanaan kurikulum sebelumnya yang dianggap belum maksimal yaitu secara materi pelajaran yang dianggap padat dan berat, belum sepenuhnya berbasis kompetensi dan belum kontekstual. Secara proses pembelajaran dianggap masih berpusat pada guru serta dokumen pelaksanaan KTSP dianggap belum rinci sehingga pengembangan kurikulum di sekolah belum harmoni dengan essensi kurikulum induk.

Target kurikulum 2013 adalah dapat menghasilkan peserta didik yang berakhlak mulia (afektif), berketrampilan (psikomotorik) dan perpengetahuan (kognitif) yang berkesinambungan. Materi pembelajaran akan diarahkan pada target pencapaian kompetensi yang tepat guna dengan materi pembelajaran yang essensial dan sesuai dengan tingkat perkembangan anak. Proses pembelajaran diharapkan mengarah pada active student center dan kontekstual dengan dipandu buku teks yang berisi materi dan proses pembelajaran (tutorial). Guru bertindak sebagai motivator dan fasilitator pembelajaran.

Kurikulum ini sangatlah ideal karena sesuai dengan teori pendidikan modern seperti students center active learning, contectual learning, contructivisme theory, democtratic and humanis learning. Konsep ini bukanlah sesuatu yang asing bagi pendidik dan pemegang kebijakan pendidikan karena sudah lama dikenal. Namun konsep yang sangat logis, sederhana dan manusiawi ini pada sakhirnya hanya akan menjadi sebuah teori di meja kerja jika tanpa didukung sumberdaya yang memadai dan perjuangan keras, karena pada prakteknya akan ditemui banyak kendala.

 

C. Perbedaan Kurikulum 2006 dengan Kurikulum 2013

KTSP

2013

Standar Kompetensi Lulusan diturunkan dari Standar

Isi

Standar Kompetensi Lulusan

diturunkan dari kebutuhan

masyarakat

Standar Isi diturunkan dari Standar Kompetensi

Lulusan Mata Pelajaran

Standar Isi diturunkan dari Standar

Kompetensi Lulusan

Pemisahan antara mata pelajaran pembentuk sikap,

pembentuk keterampilan,

dan pembentuk

pengetahuan

Semua mata pelajaran harus

berkontribusi terhadap

pembentukan sikap, keterampilan,

dan pengetahuan,

 

Kompetensi diturunkan dari mata pelajaran Mata pelajaran diturunkan dari

kompetensi yang ingin dicapai

Mata pelajaran lepas

satu dengan yang lain, seperti

sekumpulan mata pelajaran terpisah

Semua

mata pelajaran diikat oleh

kompetensi inti (tiap kelas)

 

Pengembangan

kurikulum sampai pada

komptensi dasar

 

Pengembangan kurikulum sampai

pada buku teks dan buku pedoman

guru

Tematik Kelas I-III (mengacu mapel)

 

Tematik integratif Kelas I-VI

(mengacu kompetensi)

 

 

Pada tahun ajaran baru mendatang, terdapat perubahan mendasar dalam kurikulum pendidikan. Perubahan ini mengacu pada Kurikulum 2013 yang akan mulai diberlakukan tahun ini mulai dari jenjang Sekolah Dasar (SD) hingga Sekolah Menengah Atas (SMA). Jika kurikulum terdahulu (KTSP 2006) menekankan pada pendidikan yang berbasis kompetensi, kurikulum baru ini menawarkan pendidikan yang berbasis karakter.

Pada jenjang SD, kurikulum akan bersifat tematik integratif. Dimana materi ajar tidak lagi disampaikan berdasarkan mata pelajaran tertentu melainkan dalam bentuk tema yang mengintegrasikan seluruh mata pelajaran. Hal ini tentunya berpengaruh kepada penurunan jumlah mata pelajaran setiap harinya. Selain itu, kegiatan ekstrakurikuler akan menjadi kegiatan yang diwajibkan dan menjadi bagian utuh dari mata pelajaran.

Berbeda dengan jenjang SD, tidak banyak perubahan pendekatan pengajaran pada jenjang SMP/SMA/SMK. Pendekatan yang digunakan tetap berdasarkan mata pelajaran, yang tidak memberikan banyak perubahan pada jumlah mata pelajaran setiap harinya.[5]

Terlihat bahwa perubahan banyak terjadi pada struktur pembelajaran pada jenjang SD. Hal ini didasari oleh asumsi bahwa masa dini merupakan masa yang paling baik untuk menanamkan pendidikan berkarakter kepada anak-anak. Pengintegrasian mata pelajaran tidak akan mengurangi substansi pengetahuan melainkan diharapkan dapat memberikan pengetahuan yang lebih mendalam kepada para murid di jenjang SD.

Untuk itu, kami berharap penyusunan dan penerapan Kurikulum 2013 dilakukan secara teliti sehingga dapat diimplementasikan sebaik mungkin, dengan melibatkan segenap komponen masyarakat yang terkait. Perubahan kurikulum lama ke kurikulum baru hendaknya tidak menimbulkan beban pembiayaan yang tinggi bagi masyarakat. Agar semua lapisan masyarakat bisa melaksanakan pendidikan khususnya wajib belajar 9 tahun.

Terkait dengan ini, kami ingin menekankan bahwa pendidikan adalah martabat bangsa. Karena itu, jangan sampai ada yang putus sekolah atau tidak melanjutkan pendidikannya akibat tidak mampu membayar biaya sekolah, tak mampu membeli buku dan lain-lain. Bila hal itu terjadi, itu berarti kita mengabaikan martabat bangsa. Untuk itu trasnformasi kurikulum harus benar-benar di perhatikan agar tidak bembebani.

 

 

 

 

  1. Analisis

1)      Melawan Kebiasaan

Pelaksanaan kurikulum 2013 secara penuh akan merubah sistem pembelajaran di sekolah secara radikal. Mulai dari materi pembelajaran yang sebelumnya berorientasi pada teoritis akademik (book oriented) menjadi materi yang aplikatif. Dengan target tercapainya kompetensi sikap, ketrampilan dan pengetahuan, maka kegiatan pembelajaran dengan “praktek” tidak dapat dipungkiri pelaksanaannya.

Kebiasaan belajar siswa dengan duduk manis mendengarkan ceramah guru akan bergeser dengan kegiatan aktif siswa. Suasana kelas yang tenangpun akan berubah menjadi suasana ramai nan produktif. Belajar di dalam ruangan sedikit demi sedikit akan divariasi dengan kegiatan di luar ruangan. Pada kondisi tertentu guru akan menikmati suasana kelas yang aktif kondusif namun disaat tertentu juga guru akan merasa kewalahan untuk mengkondisikan kelas. Kegiatan pembelajaran menjadi ideal dengan sarana prasarana pembelajaran yang memadai dan jumlah guru pembimbing yang proporsional.

Kebiasaan guru terpaku pada buku pelajaran akan bergeser dengan eksplorasi guru menyusun materi yang disesuaikan dengan kebutuhan siswa, kondisi sumberdaya dan muatan potensi daerah. Mensakralkan buku teori menjadi kebiasaan yang kurang pas dalam pembelajaran, karena guru harus melakukan singkronisasi dengan obyek/fenomena di sekitar siswa dan kebutuhan siswa. Oleh karena itu standarisasi pendidikan nasional cukup menyentuh tingkat pengetahuan general agar tidak menghambat kebebasan pengembangan pembelajaran.

2)      Integratif Learning

Menyadari bahwa hakikat pengetahuan adalah tidak terpisahkan dan saling terintegrasi, maka pembelajaran diarahkan untuk melihat sebuah obyek/fenomena real (kontekstual) dari berbagai kacamata ilmu. Maka solusinya adalah pembelajaran yang terintegrasi seperti dalam kurikulum 2013 untuk tingkat SD yang tersusun melalui pendekatan tematik.

Banyak ilmu yang dapat dipelajari dalam satu tema tertentu, menyatu dalam kasus atau cerita tertentu. Namun penulis melihat adanya “pemaksaan” pada pengintegrasian pembelajaran pada kurikulum sebelumnya sebagai contoh pada pengintegrasian pelajaran geografi, ekonomi, sejarah dan sosiologi menjadi IPS untuk jenjang SMP. Contoh penggabungan materi Keberagaman bentuk muka bumi (geografi) dengan materi Kehidupan pra-aksara di Indonesia (sejarah) dalam standar kompetensi “Memahami lingkungan kehidupan manusia”.

Standar kompetensi yang sangat umum ini diadakan dalam rangka menggabungkan dua materi yang nyata-nyatanya berbeda, sehingga secara essensi standar kompetensi ini tidak mengarah pada target kompetensi tertentu (abstrak). Kemudian muncul anggapan bahwa penggabungan materi ini secara substansi tidak ada pengaruhnya, kecuali hanya untuk mengurangi beban siswa membawa banyak buku pelajaran dan memultifungsikan guru mata pelajaran.

Idealnya, model integrasi dua materi di atas dapat ditempuh dengan melihat fenomena persebaran manusia pra-aksara dan membandingkan dengan kondisi muka bumi yang ditempati, sehingga pembelajaran tidak berkutat pada teori tetapi analisis aplikatif dengan mengajak siswa menyusun pengetahuan dari dua sudut pandang teori yang berbeda yaitu geografi dan sejarah.

Bahan uji publik kurikulum 2013 hanya terdiri dua hal, pertama latar belakang, konsep dasar dan cita-cita yaitu sebuah harapan seperti tertuang dalam uraian di atas. Konsep ini sangat idealis namun belum menyentuh model tindakan nyata yang akan mengubah pelaksanaan pembelajaran ke arah cita-cita tersebut. Dukungan sumberdaya yang ada perlu disadari secara jujur seperti kesiapan sekolah untuk mengubah proses pembelajaran yang didukung sarana dan prasarana yang memadai serta kerja keras guru dalam melaksanakannya. Untuk mengawal proses tersebut diperlukan modul tutorial pembelajaran yang benar-benar detail dan bermutu untuk menuntun aktivitas pembelajaran di kelas.

Kedua, permasalahan perubahan struktur mata pelajaran yang berupa penambahan jam belajar, perubahan jam mapel perminggu, penggabungan dan penghapusan mapel tertentu. Perubahan ini secara praktis mengganggu kebijakan sebelumnya khususnya permasalahan penataan pegawai (PNS). Kebijakan ini seharusnya tidak perlu, pengurangan beban belajar anak bukan terletak pada variasi jenis mapel, tetapi permasalahan kedalaman dan tingkat kepentingan materi. Sebuah materi teoritis yang dalam namun kurang bermanfaat dapat diganti dengan materi sederhana namun aplikatif dan bermanfaat.[6]



[1] Oemar Hamalik, 2003, Kurikulum Dan Pembelajaran, Jakarta: PT Bumi Aksara.

[2] Undang-undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional

[3] Mulyasa, E. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan, (Bandung; Remaja Rosdakarya, 2007)

 

[4] Harian Kompas (27/8/2012)

[6] Harian Joglosemar 18 Desember 2012

 

Oleh :

Faiza Nurfika

Kriswati

Lailatul Maulida

  1. stuju dg pembangunan karaktek bukan sekedar nilai kompetensi akademis tok yg ujung”nya cara apa aja asal lulus. lalu kalo jd pejabat jd mata duitan ato mata keranjang

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

* Copy This Password *

* Type Or Paste Password Here *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>